Chapter 3 Storefront Basic Setup
This chapter includes :
1. Storefront requirement
2. Basic application structure
3. Bootstrapping with Zend_Application
4. Global layouts
5. Application build
6. Installing the storefront database
7. Application configuration
8. Logging and debugging
Chapter 2 The Zend MVC Architecture
In this chapter, we will cover the following topics :
1. Zend framework MVC overview
2. The Front Controller
3. The router
4. The dispatcher
5. The Request object
6. The Response object
Mari Tersenyum
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
One-day Assessment Centre
Ditayangkan di KOMPAS, 7 Nov 2009
Ini adalah masa-masa sulit. Angka pengangguran bertambah. Lalu lintas semakin tidak kondusif. Polusi semakin pekat. Banjir mengancam. Otoritas tidak bisa dijadikan pegangan. Kondisi ekonomi sulit diprediksi. Kebenaran semakin tidak terang. Ketidaksiapan menghadapi bencana, membuat kita menyaksikan semakin banyak orang menderita. Ini benar benar ‘crunch time’. Banyak orang stres. Seorang ahli manajemen, Gerben A. van Kleef menyatakan bahwa ‘mental fatique’ atau kelelahan mental seorang pemimpin dalam masa-masa sulit, sering justru makin menyebabkan terperosoknya semangat orang di sekitar kita, anak buah atau bawahan lebih dalam.
Sekarang memang saatnya menentukan sikap dan tindakan. Inginkah kita terus meratap, menyalak dan meraung? Seorang teman, dalam keadaan Negara yang galau ini malah mengirimkan pesan teks ke saya: “Enjoy your moments of truth”. Kalimat sederhana itu seketika membuat saya tergugah. “Bukankah kita masih bisa mensyukuri banyak hal, mengupayakan banyak hal, mempertimbangkan pelanggan yang menunggu servis kita, memuaskan ‘stakeholders’ kita, membangun generasi muda kita, melakukan “coaching”, dan begitu banyak pe –er di depan mata yang tidak bisa kita hindari? Kita pun bisa bertanya sendiri : “Apa yang kita dapatkan dengan bersungut-sungut? “,“Apa dampaknya kalau kita terus meratap dan meraung?”. “Sadarkah kita bahwa emosi menular dan anak buah atau bawahan bisa jadi ketularan turun semangat?” Seorang atasan atau pemimpin yang baik, perlu memiliki kemampuan menghidupkan semangat tim dan bawahannya dalam keadaan segalau dan sekritis apapun. Ingat bahwa emosi orang di sekitar kita adalah tanggung jawab kita juga.
Investasi Emosi
Dalam menyelesaikan pekerjaan, kita memang harus fokus pada tugas dan hasil kerjanya. Sangat wajar bila kita kemudian mengabaikan emosi individu. Ada manajer yang berkomentar:” Terlalu mewah untuk mempedulikan emosi anak buah di masa-masa sulit begini. Yang siap ikut, ya, ikut. Yang tidak bersedia, kita tinggal sajalah!”. Padahal, bila dipikir-pikir, ada dua hal penting yang perlu kita pertimbangkan. Pertama, kita tidak pernah bisa mengingkari bahwa individu yang bagus adalah asset. Hanya dalam keadaan emosi yang stabillah ia bisa berkinerja dobel. Hal kedua adalah, sebagai pemimpin, kita tentunya tidak ingin mentalitas dan emosionalitas anak buah merosot, bukan? Sebab itu berarti spirit dan energi dalam lingkungan kerja, cepat atau lambat akan terpengaruh ke arah yang negatif juga. Kalau sudah sampai di titik terendah, akan sulit sekali untuk mengangkatnya kembali. Suasana emosi kelompok yang sudah terlanjur skeptis dan pesimis bahkan bisa jadi tidak bisa diperbaiki dengan uang.
Dalam keadaan terpuruk di mana ‘reward’ finansial sulit disediakan, kita justru perlu melipatgandakan investasi emosi yang bahkan bisa tidak makan biaya sama sekali. Spiritnya adalah mengembangkan hubungan manajemen – karyawan, atasan – bawahan, antar tim dan divisi yang berkualitas dan positif. Kita tentu bisa merasakan bahwa investasi emosi akan memperbaiki hubungan, meningkatkan dukungan, juga mengembangkan rasa percaya. Keadaan emosi yang positif ini sulit sekali dibentuk secara instan. Bagaimana investasi emosi ini ditumbuhkan? Ia datang sebagai hasil apresiasi, sambung rasa, perasaan didengarkan, dilibatkan, diperhitungkan dan juga kebebasan berpikir dan bertindak. Emosi positif yang terpancar akan menjadi penyejuk dan penyemangat. Kemampuan tim untuk menyelesaikan masalah, mengambil keputusan pun otomatis jauh lebih baik, karena mempertimbangkan “concern” yang bisa menjadi dukungan satu sama lain.
Keceriaan: Pembangkit Energi
Seorang eksekutif kenalan saya sering menggunakan istilah ‘holding hands’ dalam upayanya menjaga enerji rekan rekan kerjanya. “Dalam krisis begini, tidak ada yang bisa menjamin ‘job security’. Satu-satunya cara agar teman-teman yang masih ada dalam tim tetap berupaya dan berkinerja adalah rasa kebersamaan dan keyakinan untuk berbagi susah dan senang.” Sebagai pemimpin, kita tentu tidak boleh lupa, bahwa kitalah yang punya tugas untuk menjadi penyemangat, penggerak, pendorong atau ‘cheer leader’. Mau tidak mau, pemimpin adalah pusat emosi kelompok. Sikap ‘gloomy’ atau cemberut berlarut-larut yang kita tampilkan, pastilah tidak akan bisa ‘mengangkat’ emosi dan enerji orang di sekitar kita. Hanya dengan menularkan keceriaan, asa keterpurukan bisa kita angkat.
Habis Gelap Terbitlah Terang
Dalam satu acara diskusi dengan sekelompok pemimpin satuan kerja, seorang peserta berkomentar mengenai visinya untuk pengembangan manusia: “Saya ingin mengajak anak buah saya, melihat titik terang di kejauhan, dari lorong yang gelap”. Ungkapan ini spontan mengundang tepuk tangan teman teman peserta diskusi. Sungguh sesuatu yang menyegarkan. Kita tahu bekerja keras, menyelesaikan proyek, mengabdi, berjuang, bisa menjadi kegiatan yang berat dan sekaligus ‘fun’. Kita bisa berfikir kreatif bagaimana membuatnya ‘fun’. Dalam situasi “sulit”, hanya orang-orang yang fanatik dan antusias mengenai kehidupanlah yang masih bisa mengajak lingkungan sekitarnya tersenyum, bagaimana pun keadaan emosi dirinya. Orang-orang seperti ini pasti meyakini bahwa “good things will happen, good things do happen.”. Tersenyumlah, karena ia membawa aura positif.
Chapter 1 Creating a Basic MVC Application
This chapter describe about :
1. What MVC is
2. Setting up your environment
3. Installing Zend Framework
4. Creating a Project with Zend_Tool
5. Bootstrapping and Configuration
6. Creating Controllers
7. Creating Views
8. Handling Errors
Otak dan Watak
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
One-day Assessment Centre
Ditayangkan di KOMPAS, 31 Oktober 2009
Saya terinspirasi oleh Profesor Arief Rachman, begawan pendidikan Indonesia. Dalam suatu acara di sebuah stasiun televisi baru-baru ini, beliau dengan cantik menyebutkan “Otak dan Watak” sebagai kriteria pejabat atau eksekutif. Dalam audisi menteri baru-baru ini, sering kita dengar ulasan mengenai pejabat-pejabat yang dikenal ‘expert’ di bidangnya. Bila ditinjau sekelebatan, segera saja kita akan terjebak pada kecerdasan, juga fenomena IQ (intelligent Quotient). Singkat kata, disimpulkan bahwa pejabat, eksekutif ataupun pemimpin yang ber -IQ tinggi adalah expert di bidangnya. Dengan IQ tinggi ia diprediksi mampu menangani masalah pada satuan kerja yang dipimpinnya. Cukupkah itu?
Kita sama-sama menyadari bahwa dalam mengurus sebuah departemen, direktorat ataupun divisi di masa sekarang sudah tidak lagi kita bisa mengandalkan kapasitas birokratis dan politis saja. SOP (standard operating Procedure) saja, jelas-jelas tidak cukup. Masalah-masalah yang dihadapi saat ini sering tidak masuk akal, bahkan tidak ada dalam pembahasan kasus di universitas Harvard sekalipun. Etos kerja, sorotan dunia, perubahan, ke’bawel’an media serta sikap kritis masyarakat, otomatis sudah menjadi barometer kinerja kita, sehingga tuntutan ekspertis, kepintaran dan kecermatan tidak lagi bisa mengandalkan kecerdasan biasa.
Kekuatan OTAK
Kita tahu bahwa profesionalitas sesuai dengan bidang kerja yang dibawahi, misalnya kepiawaian sebagai dokter atau peneliti untuk mempimpin departemen kesehatan, tetap perlu dipertanyakan “kelengkapan”-nya. Kepintaran pejabat dan eksekutif sekarang langsung akan tertantang oleh keadaan pasar, lingkungan yang tidak beraturan, juga komplikasi perilaku manusia dengan berbagai agenda. Monopoli tidak lagi mempan dan bahkan tidak dibenarkan. Birokrasi yang dulu direspek dan dipanuti sekarang dipantau dan ditagih janji-janji pelaksanaannya. Salah berkata atau bertindak, bisa memicu demo dan pengaduan ke lembaga berwenang.
Pengetahuan professional memang berkontribusi pada keberhasilan seseorang, namun kita tahu seringkali kegagalan seorang pimpinan bukan terletak pada keahlian dalam bidangnya namun juga seberapa piawai ia mengelola manusia di bawahnya, seberapa jauh ia menguasai mekanisme komunikasi, kinerja tim, dan seberapa mampu ia membangun hubungan dalam tim yang diwarnai ketulusan, rasa percaya dan etos kerja yang baik.
Bukan sekedar ekspertis murni yang dibutuhkan di sini, kontrol sosial pun sangat krusial. Bahkan pemecahan masalah lebih banyak diarahkan pada kericuhan politis, perang pengaruh, negosiasi kebijakan, prevensi dan isu-isu global. Ekspertis seorang pemimpin besar perlu ditempatkan pada konteks yang sangat praktis, kekuatan meng-’indra’ lapangan dan berkaitan dengan berbagai dimensi yang terintegrasi ke dalam masalah yang demikian kompleks dan hanya bisa dijangkau dengan kekuatan berpikir yang tinggi. Otak tidak saja perlu berkemampuan tinggi , tetapi betul betul perlu kuat alias berkapasitas dobel.
Mempimpin dalam Karakter
Saat menonton tayangan beberapa wawancara ataupun pernyataan pemimpin-pemimpin baru di media, kita segera saja bisa melihat perbedaan antara satu orang dengan yang lain, juga secara otomatis bisa membaca karakter sang pemimpin baru. Ada pejabat yang berapi-api, ada yang sama sekali tidak tersenyum sepanjang bicara, atau ada juga yang bicaranya sangat pelan dan perlahan, tidak menularkan antusiasme, apalagi menampilkan ‘kinclong’-nya jati diri. Saya jadi berpikir: “Bukankah karakter mereka yang harus unggul dan mereka dituntut memimpin dengan karakter juga?” Masyarakat atau anak buah tentu tidak ingin mendengar pimpinannya berkata: ”Maaf, karakter saya memang ‘begini’.”
Setiap pemimpin memang perlu meninjau kembali ‘personal truth-nya. Ia perlu meyakini misi tim atau lembaga yang ia pimpin, sampai ke dasar-dasarnya, sehingga mampu menampilkannya secara moril, bahkan menjadikannya sebagai jatidirinya. Saat prinsip dipegang teguh, otomatis sang pemimpin tidak bisa diganggu gugat, ataupun dibolak balik. Keteguhan ini menyebabkan seorang pemimpin seolah mempunya ‘meta-kognisi’ terhadap suatu permasalahan dan sangat tahu bagaimana masalah akan dipecahkan, karena jawabannya terdapat dalam setiap nilai dasar institusinya. Pemahaman mendalam tentang misinya biasanya akan mendorong seorang pemimpin melakukan tindakan-tindakan yang ‘walk the talk’ secara kontinyu tanpa perlu ‘dipikirkan’ bahkan direkayasa.
Menembus kompleksitas dan kegalauan situasi
Kita jadi bertanya-tanya, masihkah banyakkah individu yang kuat menantang badai kompleksitas dan kegalauan situasi, baik Negara maupun ekonomi? Apakah gaji besar yang digembar gemborkan menggiurkan sepadan dengan kesulitan yang dihadapi? Kita sadar bahwa banyak masalah tidak mungkin diselesaikan dengan kapasitas ‘lobby’ yang ada, kecuali dengan expertis empiris yang mapan dan mental baja. Kita lihat bahwa hanya individu dengan semangat juang ekstra dan senantiasa menjunjung pengabdian pada profesi dan negaralah yang bisa memikulnya.
experience makes perfect
Since 2 days ago, I have a trouble in coding case upload csv file. I developed the fiture in order my client can upload csv file. I used xampp and Windows OS. I had tested my script in localhost, it run well. But when I upload the file to server, it can not run as well. So I asked to network administrator, why such a problem coming? And then, he examined my script, and the conclusion was because they are in different environment, the server uses Linux Fedora. The flow of my script is like this, I uploaded csv and get tmp file from the csv and I store it in folder tmp like I’ve set before. And then the tmp files, I opened and parsing the content and store to MySQL database. Well, it’s different in the server, the tmp file has no permission for user, so the tmp file can not be opened
. So, I have to change my technique in uploaded csv file, I change that the csv file can upload into a folder I made without tmp file like before, and opened the csv file, buat the method to parse manually, not using a fast method like before. But, finally it was done. So, I’ve realize that the same environment between developer environment and server are so important.
Finally It’s Done
Finally UAT part business process was done. But they still want to check part CMS (Content Management System),yeah of course. Just confident that the CMS will be fine. I’ll wait report tomorrow while doing the other task. I have some trouble in doing my new task, my problem is when I was parsing the HTML file, and I integrated with the default system setting,the CSS file can’t load an image that I’ve need,but in the other case, I mean the other file can load an image with the same sintaks, may be it’s a mistake in path loading image or something I still don’t know. Let’s check it out, what a shamefull if just doing this we need a long time
.
Bug Again
The final UAT (User Acceptance Test) still have 1 bug. Hope that will be fixed soon and UAT will finish as well. My first task in Myindo made a Mini Hydro Power Directory in http://agmhp.aseanenergy.org. The CMS for the web already done by other person, so I have to make one new module named directory. The programming style of CMS before are OOP, so i have to follow that style, also the database were ready, I am just have to add some of table relation with MHP directory. Finally MHP directory done, but why today one bug is appear ?
